RSS
Tampilkan postingan dengan label Peksos Batu Loncatan Alumni. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peksos Batu Loncatan Alumni. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Januari 2014

Hidup itu “Pilihan, Kebiasaan dan takdir”...


Hidup itu “Pilihan, Kebiasaan dan takdir”...
Halo semua pengunjung blogger ini, niatnya sih saya ingin berbagi pengalaman titik perjuangan hidup saya selama belajar di SMKN 2 Malang khususnya untuk adek adek Peksos. Yah mungkin saya tidak begitu pintar dalam hal tulis menulis karena jujur saja saya lebih suka komunikasi secara verbal daripada nonverbal melalui coretan. Namun setelah membaca blogger tentang Peksos ini, saya merasa terpanggil untuk menyumbangkan pengalaman saya, siapa tau bermanfaat bagi calon atau generasi Peksos Alumni SMKN 2 selanjutnya.

Jadi gini ceritanya,awalnya saya masuk dijurusan Pekos ini bukan pilihan pertama saya, tapi takdir berkata lain saya tidak diterima pada jurusan yang saya pilih dan ditempatkan dijurusan Peksos ini. Belum pernah saya menceritakan hal ini pada teman teman terdekat saya dikelas dulu, sebab saya malu pada diri sendiri dan tetap menjaga nama Jadi mau tidak mau peksos ini adalah pilihan yang akan saya tekuni kedepan. 
Saya sempat tidak mengerti mengenai judul mata pelajaran jurusan yang pertama kali saya dapatkan. Apa itu mata pelajaran “Tingkah Laku Manusia dan lingkungan Sosialnya”, apa itu Prinsip-Prinsip Pekerja Sosial, sama sekali saya tidak mengerti. Disini saya berusaha untuk mencari tahu, mendalami mengenai ilmu-ilmu Peksos dengan bantuan guru dan teman-teman terdekat saya. Awalnya sempat bertanya-tanya apa sih Peksos itu, mau dikemanakan setelah lulus nanti?? Itulah pertanyaan yang terus ada didalam benak saya. Ini adalah hal baru dalam kehidupan saya, jadi saya berusaha belajar dan menghilangkan ketidakyakinan saya pada jurusan ini. Seringkali saya mengeluh terhadap kedua orangtua saya mengenai ketidakpahaman mengenai bidang ilmu yang saya geluti saat itu, namun orangtua hanya mampu menasehati dengan kalimat sederhana “sekolah itu nak, jangan berfikir nanti mau kerja apa? Mau jadi apa? Yang penting sekarang kamu tekun dan gali sebanyak-banyaknya ilmu yang diberikan oleh gurumu. Tanamkan niat pada diri bahwa kamu ikhlas mencari ilmu, bukan mencari ilmu semata-mata untuk kerja, nanti kalau kamu sudah mendapatkan ilmunyaa orang yang akan mencari kamu”. Dengan motivasi yang diberikan oleh orangtua dirumah, saya semakin yakin dan mulai manata niat pada diri untuk terus belajar dan belajar. Setiap hari saya berusaha menjadi siswa yang ideal, datang tepat waktu, tidak lupa mengerjakan PR, selalu mendengarkan penjelasan dari guru dan menghargai teman –teman disekitar saya. Sejak saat itulah keseharian saya hanyalah berkutik dengan buku-buku matapelajaran dan mereview penjelasan dari guru disekolah. Lama semakin lama saya jadi terbiasa dengan masalah, baik itu yang ada disekolah maupun pada diri sendiri.  Saya mulai mengerti anak nakal, anak jalanan, dan anak dengan hambatan lainnya.
Menginjak kelas XI saya mulai dekat dengan guru-guru Peksos yang selalu membantu saya jika mengalami kesulitan. Saat itulah saya semakin yakin dan mulai senang pada jurusan ini. Ilmu tentang Peksos yang saya dapat disekolah menjadi sangat real ketika saya magang atau PSG selama 6 bulan di RSI Unisma Dinoyo. Disini saya belajar hal baru yaitu layanan terhadap anak berkebutuhan khusus. Banyak sekali masalah yang mereka hadapi baik itu segi fisik ataupun psikisnya, namun mereka tetap semangat untuk belajar mengoptimalkan perkembangan mereka. Dari sini saya dapat memetik sebuah kesimpulan bahwasanya mereka yang mengalami kebutuhan khusus masih memiliki semangat yang tinggi untuk terus melanjutkan hidupnya, apalagi saya yang tidak memiliki hambatan apapun dengan masalah ketidakyakinan pada Jurusan ini menjadikan saya berputar 360 derajat menjadi yakin seyakin-yakinnya untuk memperjuangkan nama Peksos agar selalu menjadi yang terbaik diantara jurusan lain yang ada di SMKN 2 Malang. Setelah selesai magang ada seleksi untuk Lomba LKS Peksos disekolah. Dengan bimbingan Ibu Andarwati saya mencoba mendaftar bersama dengan rekan saya (Iin, Ima, Mita, Popy, Wiwin, dll saya lupa hheheeee), namun mungkin kurang persiapan saya tidak terpilih, saat itu yang maju mewakili Jatim adalah Wiwin.
Tapi itu semua tidak menciutkan tekat saya, saya terus belajar mendalami ilmu Peksos, dengan bantuan teman teman seperjuangan dikelas (Ima, Phy, Iin,Juaria, temen2 Artwochii dan D’Plendpell, miss u so much teman J ...), rekan magang saya di RSI (Erna, Fika, lely, Fitri, Ageng, Sandy), dan tentunya guru-guru Peksos saya berhasil menyusun tugas Akhir saya dan berhasil melalui sidang dengan 3 penguji.
Tidak lama setelah itu saya mendapatkan tawaran dari Ibu Andarwati untuk maju mewakili Jatim pada lomba LKS SMK bidang Peksos ke 20 di Bandung. Dalam hati saya merasa apa yang saya lakukan selama ini tidak sia-sia dengan ditunjuknya saya mengenai tugas tersebut. Selama satu bulan dibawah bimbingan bu Lilik Primi, pak Hafid,Mbak Putri (Alumni Peksos yang mendapatkan juara 1 ketika lomba LKS), mbak Wardha (juga alumni yang mendapatkan juara 1), dan teman saya wiwin, saya mengalami proses perjuangan (jatuh-bangun) untuk mempersiapkan lomba secara matang. Setiap hari berpindah tempat untuk belajar persiapan lomba, mulai dari belajar disekolah dengan buLilik, belajar di Dinsos dengan mbak Putri, dan malam harinya belajar presentasi dirumah pak Hafid dengan mbak Wardha dll. Saya sangat berterimakasih terhadap beliau ini yang merelakan waktu luangnya untuk membimbing saya yang masih memerlukan banyak pengetahuan mengenai dunia Pekos. Ketika hari H tiba, rasanya berdebar-debar dan senang sekali disatu sisi bertambah teman yang merupakan orang-orang hebat dari daerahnya masing-masing dengan membawa bendera yang sama yaitu Peksos. Serangkaian lomba telah saya ikuti dengan berusaha membawakan semaksimal mungkin bekal yang telah saya persiapkan dihadapan juri. Dan alhamdulilah study kasus yang saya buat disana dalam waktu 2 jam berhasil membuat para juri takjub, sebab mereka berkata study kasus saya merupakan studykasus terbaik dari peserta lainnya, selain itu salah satau juri (Pak Adi Fahrudin kalau gak salah namanya) menambahkan, mahasiswanya di STKS belum tentu bisa membuat study kasus seperti ini. Setelah selesai lomba selama 3 hari, panitia mengajak seluruh peserta untuk jalan-jalan didaerah Lembang, pasar, alun2 (enak khan bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian). Malam terakhir penutupan sekaligus pengumuman pemenang lomba, rasanya saya tidak ingin hadir disana, pengen tidur saja dihotel sebab saya tidak siap jika mengecewakan semua orang yang mensuport saya. Akhirnya di Sasana Budaya Ganesa ITB Bandung, malam itu dengan diliputi perasaaan berdebar2 sepanjang jalan, serangkaian acara demi acara telah saya lalui dengan didampingi BuLilik dan berkumpul dengan seluruh kontingennya masing-masing, aku Jawa Timur tentunya. Tibalah penentuan pemenang lomba Caring/Peksos/Perawatan Sosial, dan alhamdulilah meskipun tidak membawa medali emas saya mendapatkan medali perak dengan urutan juara 2 LKS SMK ke 20 di Bandung.



Foto bersama peserta dan para Juri di SMKN 15 Bandung


Foto ketika menunggu Pengumuman hasil Lomba dengan teman-teman kontingen Jatim


Foto penyerahan medali perak dipanggung besar Sabuga ITB

Nih medalinya yang berhasil dibawa pulang, 


Dan akhirnya takdir membawa saya untuk menang dalam perlombaan tingkat nasional ini, sungguh hal yang paling bersejarah dalam kehidupan saya.
Setelah lulus, saking cintanya saya sama anak-anak berkebutuhan khusus saya memutuskan untuk sekolah Pendidikan Guru Luar Biasa di Universitas Negeri Malang, dan setelah satu semester disini ternyata ilmu-ilmu Peksos masih berkaitan dan dipelajari untuk jurusan yang saya tekuni saat ini. Nah, untuk adik-adik kalian jangan khawatir mengenai jurusan Peksos ini sebab jurusan ini lingkupnya sangat luas, bahkan ketika kalian berada diperguruan tinggi jangan takut untuk bersaing dengan mahaiswa yang berlatarbelakang SMA, sebab kita sudah memiliki bekal yang mereka tidak miliki.

Inilah pilihan saya setelah lulus dari Peksos SMKN 2 Malang, J. Foto ketika praktek mengajar anak Sekolah Luar Biasa bagian C (Tunagrahita)


Jadi tetap optimis dengan jalan hidup kalian, jalani apa yang sudah ada dengan tekun dan penuh keyakinan, dan satu lagi jangan pernah kalian menganggap berada di Peksos ini karena SALAH JURUSAN, sebab itu semua tidak akan merubah hidup kalian kearah yang lebih baik. Ingat HIDUP ITU PILIHAN, KEBIASAAN DAN TAKDIR, jadi apa yang sudah menjadi pilihanmu, tekuni dengan sungguh-sungguh sebab takdir juga akan berkata diakhir...
Heheeheee Cuma itu yang bisa saya lontarkan, sebenarnya saya malu untuk menceritakan kehidupan saya namun apalah arti semua itu jika sedikit pengalaman yang ada pada diri saya bisa membangkitkan motivasi pada calon generasi Peksos SMKN 2 Malang,Semangat yaaaa ..............  

NB: Cerita dituturkan dan ditulis oleh Fidayatul Kasanah. Alumni Peksos 2012. Saat ini kuliah di jurusan pendididkan luar Biasa (PLB), Universitas Negeri Malang (UM)

Kontak:
FB 'Fidayatul Kasanah'
Email fidayatulkasanah@gmail.com




Selasa, 14 Januari 2014

Peksos Itu 'Jendela Dunia'

Kalian pasti sering dengar sebuah kutipan klasik bahwa ‘buku itu jendela dunia’. Tapi, bagaimana dengan satu kutipan asing ini? ‘Peksos Itu Jendela Dunia’. Pasti asing kan?. Nah, itu tapi yang memang saya rasakan selama ada di jurusan Peksos/ Pekerjaan Sosial SMKN 2 Malang yang kini namanya di ubah menjadi Perawatan Sosial.
Suasana kelas di kampus. Saya (kiri)
Berawal dari cerita sejak masa kecil dari Ayah saya yang merupakan lulusan Peksos tahun delapan puluhan (waktu itu masih bernama SMPSN/Sekolah Menengah Pekerjaan Sosial Negeri dan masih di tempuh selama 4 tahun) soal dunia Peksos dimana dalam dunia tersebut kita bisa berakrab ria dengan bidang yang di anggap asing oleh orang dari
profesi kebanyakan seperti bidang yang mengurus anak kebutuhan khusus dan anak bermasalah. Dari cerita- cerita sedari kecil tadi ternyata menyentuh minat saya untuk memasuki jurusan tersebut ketika lulus SMP. Keraguan sempat muncul di benak ibu saya padahal ibu juga merupakan lulusan di sekolah yang sama dengan Ayah pada tahun yang sama. Ibu saya berharap saya kuliah, tapi di sisi lain ragu apakah seorang lulusan SMK mampu berkuliah.
Saya banyak berargumentasi sebelum mengisi formulir pendaftaran SMKN 2 Malang dengan pilihan pertama jurusan Peksos. Ibu saya berharap saya masuk di jurusan pariwisata mengingat kemampuan bahasa asing dan semangat saya belajar bahasa asing cukup bagus, namun saya tetap ngotot bahwa saya harus masuk di jurusan Peksos SMKN 2 Malang. Akhirnya setelah perdebatan yang cukup panjang, ibu saya mengijinkan saya untuk masuk di jurusan Peksos dengan syarat saya mampu bertanggung jawab dengan pilihan saya. Sikap Ibu saya memang berbeda dengan Ayah. Ayah sebenarnya sama khawatirnya dengan Ibu soal pilihan hidup saya akan tetapi Ayah lebih menekankan bahwa pilihan semuanya ada di tangan saya dan tidak terlalu ekspresif menggambarkan saran yang ada di kepalanya, sedangkan Ibu bersikap sebaliknya.
***
Di antar Ayah, saya mendapat urutan nomor lima pada saat pendaftaran. Pendaftaran dilakukan dengan tes wawancara. Saya sangat santai pada hari itu, saya berikrar dalam hati bahwa saya pasti mendapat yang terbaik karena saya sungguh berniat untuk belajar di bidang yang menarik hati saya.
Satu demi satu peserta di panggil di ruang wawancara dimana di dalamnya terdapat dua guru pewawancara yang selanjutnya saya kenal dengan nama Bu Endang Widowati dan Bu Andharwati.
Ayah saya bergumam sambil menunjuk Bu Andharwati, Ayah saya berkata bahwa sepertinya saya akan di mendapat giliran wawancara di meja Bu Andharwati karena setelah lebih dari 30 menit berjalan, Bu Andhar hanya mewawancarai satu peserta saja yaitu peserta nomor dua.
Benar saja, saya memang mendapat giliran wawancara di meja Bu Andhar. Kesan awal, Bu Andhar memiliki perangai keras, tapi itu semua malah membuat saya tertantang untuk berlaku tetap tenang tidak seperti peserta sebelumnya yang terlihat begitu tegang.
Bu Andhar memang tidak terlalu menampakkan empati saat melakukan wawancara namun saya tetap santai. Satu pertanyaan yang di tekankan oleh Bu Andhar adalah, kenapa saya ingin mengambil jurusan Peksos. Bu Andhar terkesan tidak mau asal dalam menerima siswa di jurusan Peksos. Saya menjawab pertanyaan tersebut sesuai pengetahuan yang saya dapat dari Ayah. Hingga di akhirpercakapan Bu Andhar terheran- heran darimana asal pengetahuan yang saya dapat tersebut dan akhirnya saya pun mengatakan bahwa pengetahuan tersebut saya dapat dari Ayah yang merupakan alumni Peksos angkatan delapan puluhan. Bu Andhar segera menyuruh saya untuk memanggil Ayah untuk segera turut di wawancara seperti halnya peserta sebelumnya.
Dengan gayanya yang tetap tidak terlalu menunjukkan empati, Bu Andhar merekap nilai rapor saya selama SMP sembari mengatakan ‘Saya tunggu prestasinya’.
***
Saya sangat menanti pertemuan kembali dengan Bu Andhar, namun sayang pada semester satu saya tidak mendapati nama Bu Andhar di daftar nama guru pengajar.
Namun ternyata, sosok guru yang sangat menarik bukan hanya Bu Andhar. Saya selanjutnya bertemu Pak Apud. Pak Apud senang memancing saya dengan pertanyaan di kelas agar saya berani berpendapat, diluar kelas pun, Pak Apud sering mengajak saya mengobrol ringan atau pun berdiskusi, lebih daripada itu, Pak Apud mengakui keberadaan saya di antara kebanyakan guru yang meremehkan diri saya.
Selanjutnya, saya juga berjumpa Bu Endang, sosok yang mempercayai diri saya menjadi ketua kelompok pada saat praktek kerja di TKN Pembina Mlang, sosok yang juga keibuan dan sangat telaten membimbing saya dan teman- teman dalam kelompok yang sangat berniatuntuk belajar.
Suasana kelas di kampus. Saya (kanan)
Bu Andhar yang saya temui pada saat pembelajaran di semester 2 kelas 10 pun sangat bersahabat di kelas. Ada juga Bu Siti yang sering meminta bantuan kepada saya membawa buku tugas teman- teman sekelas dan sering menggoda saya karena pada waktu itu tinggi badan saya tidak mencukupi sampai di posisi teratas almari buku di ruang guru. Semua guru Peksos sangat kekeluargaan akan tetapi untuk saat ini belum saya ceritakan keseluruhan dalam cerita ini.
***
Saya ingin sekali kuliah, namun saya bingung ingin berkuliah di jurusan apa. Hingga menginjak kelas 3, saya tetap bingung. Satu yang saya pegang, saya ingin masuk di dunia sosial- pendidikan tapi gambaran jurusan apa yang akan saya ambil untuk kuliah tetap saja kosong.
Hingga saya membaca ada jurusan Pendidikan Luar Sekolah/ PLS di Universitas Negeri Malang sebagai salah satu jurusan di fakultas ilmu pendidikan di web Universitas Negeri Malang (UM). Jurusan iniasing, namun ketika saya baca sedikit profil jurusan tersebut dari internet, saya mengambil kesimpulan bahwa jurusan ini merupakan satu jajaran Peksos akan tetapi lebih spesifik. Jurusan PLS menangani lingkup pendidikan non formal dan berbagai permasalah dalam masyarakat termasuk di dalamnya anak jalanan dan masyarakat dengan tingkat kesejahteraan rendah.
Senasib dengan jurusan Peksos, jurusan PLS yang selanjutnya ketika saya masuki ternyata adalah sosiologi terapan sama- sama nyaris di lupakan orang. Saya pertama kali mengutarakan niat saya untuk masuk pada jurusan tersebut kepada Pak Yachya, guru senior di BK/ Bimbingan Konseling SMKN 2 Malang. Pak Yachya mengatakan bahwa memasuki jurusan tersebut adalah panggilan hati dan sangat baik apabila saya ingin memasuki jurusan tersebut. Pak Yachya juga menginformasikan bahwa Mbak Bunga Larasati yang di gadang mengikuti lomba LKS Peksos (dia merupakan kakak tingkat setahun di atas saya) setahun yang lalu juga mengambil jurusan PLS.
Singkat cerita, saya mendapat nomor Mbak Bunga dari Mbak Tri Ayu Ningsih, teman seangktan Mbak Bunga yang saat ini berkuliah di jurusan Psikologi Universitas Merdeka Malang.
Saya dan Mbak Bunga akhirnya berdiskusi soal jurusan PLS, Mbak Bunga sangat terbuka menerima berbagai pertanyaan dari saya. Mbak Bunga tidak mempengaruhi saya untuk mengambil jurusan yang sama hanya saja memberi berbagai pengambaran mengenai jurusan PLS sehingga makin mantab saya mengambil jurusan karena penjelasan Mbak Bunga soal PLS menyentuh dunia Sosial- Pendidikan yang memang begitu saya dambakan.
***
Saya ingin kuliah, soal biaya pasti ada jalan. Orang tua saya mendukung dan menyanggupi biaya dengan cara apapun, namun saya berharap bahwa saya mendapat rezeki lain untuk kuliah tanpa harus membebani kedua orang tua saya. Itulah yang membuat saya nekat mengikuti seleksi undangan dengan jalur Bidik Misi.
Kenyataan gagal pada jalur tersebut nyaris membuat saya patah semangat, namun banyak sekali orang sekeliling saya yang mendukung saya untuk mengikuti jalur tulis. Saya
Saat menjadi operator Seminar Nasional dosen PLS. Saya (Nomor 1 dari kiri)
sendiri pun merasa, bahwa jika saya menyerah maka saya menghianati semangat saya sendiri dimana pada awalnya saya bertekad mengikuti jalur tulis apabila gagal pada jalur undangan. Apabila saya menyerah, artinya saya juga menghianati dorongan dan himbauan pada teman- teman seperjuangan saya agar jangan pernah menyerah atas desakan keadaan apapun.
***
Dalam keadaan masih berusaha bangkit dari kegagalan, saya belajar sendiri via online sebelum tes pada jalur tulis. Untuk bimbingan khusus pra ujian tulis sangat mahal jadi saya memilih belajar sendiri via online yang mana tanpa harus mengeluarkan biaya sepeser pun.
Hati saya sedikit terobati ketika saya mendapat informasi dari Pak Arif, salah satu guru muda di BK SMKN 2 Malang bahwa siswa yang pernah mengajukan Bidik Misi/ BM pada jalur undangan tidak perlu mengeluarkan biaya pendaftaran jalur tulis lagi.
Saya menoleh ke kiri dan ke kanan, banyak teman yang gagal di jalur undangan berhenti di jalan. Sebagian teman itu tidak ingin mengikuti jalur tulis seperti yang bakal saya tempuh, semua itu tidak membuat saya patah, saya nekat mengikuti ujian tulis. Saya tidak ingin menghianati kata-kata saya sedari dulu bahwa teman- teman seperjuangan tidak boleh patah asa, saya juga tidak ingin menghianati mereka yang mati- matian jadi penyemangat bagi diri saya tanpa pamrih.
***
Saya lolos ujian tulis! Perjuangan saat itu, di kampus putih (Universitas Muhammadiyah Malang/ UMM) lantai 6 berhasil saya lalui dan lagi! Usulan Bidik Misi saya juga lolos. Sebagian merasa saya begitu beruntung. Beruntung? Kata tersebut seolah menggambarkan tidak ada doa dan usaha dari saya mau pun orang- orang terdekat yang menyertai perjalanan saya. Ah... sudahlah terserah... toh saya tidak pernah minta makan kepada para komentator itu kan?.
***
Jurusan PLS ternyata jauh lebih ‘gila’ dari perkiraan saya. Dalam perkuliahan, saya masih menemukan teori Maslow, teori komunikasi dan banyak lagi hal yang sudah tidak asing alias pernah saya pelajari di jurusan Peksos semasa SMK.
Dan lagi! Pendidikan Nonformal lingkupnya lebih dari perkiraan awal saya. Seminar, papan informasi, proses training salah satunya out bond, menejemen PAUD, pelatihan, pengembangan masyarakat hingga tata ruang kota kaitannya yang mendidikan
Bersama teman- teman jurusan PLS di Pelatihan ESQ Fakultas Ilmu Pendidikan
dan membangun masyarakat di luar sistem persekolahan, dimana salah satu aspek penting dalam praktiknya adalah kemampuan komunikasi, ternyata juga merupakan bidang garapan PLS! Lagi- lagi kesemuanya ini tidak asing bagi saya karena saya pernah mendengar semuanya di jurusan Peksos. Pantaslah saya katakan bahwa Peksos itu ‘Jendela Dunia’!. Mengambil kuliah selain Peksos bukan berarti hati dan jiwa saya sudah lupa dengan Peksos, namun Peksos bagi saya merupakan batu loncatan bagi untuk menghadapi dunia dengan berbagai cara!.

^_^ big thanks! kepada:
Teman- teman seperjuangan kuliah cari gratisan:
1.     Putri Wulandari
2.    Wahyu Andriani
3.    Putri Sih Anekasari
4.    Ari Michael Roosmaya
Guru- guru Peksos yang membimbing selama 3 tahun dan guru- guru BK SMKN 2 Malang yang tidak lelah menyemangati dan memberi jalan bagi mereka yang punya semangat.


Nb: Cerita dituturkan dan ditulis oleh Poppy Trisnayanti Puspitasari. Peksos SMKN 2 Malang lulusan tahun 2012. Saat ini kuliah di Universitas Negeri Malang (UM) jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS).

Kontak:
Twitter @TrisnayantiP

Blog semangkaaaaa.blogspot.com

Langkahku Inspirasiku


Dengan senangnya aku menuju sekolah yang ku sukai yaitu SMKN 2 Malang, sekolah yang unik dan sejuk, dengan berbekal keyakinan aku tertarik sekali dengan jurusan keperawatan medis, langkah demi langkah pendaftaran ku lalui, dan pada tes terakhir terjadi suatu ketidak adilan yang kurasakan, tes mengerjakan soal matematika, gelombang 1 sudah berjalan, dan aku gelombang kedua, berhubung ada 1 bangku kosong pada gelombang 1, tiba-tiba aku disuruh masuk, dan akhirnya aku kekurangan waktu dalam mengerjakan soal matematika, hm..... ya sudahlah mungkin ini sudah jalanNya. Aku menuju ruangan selanjutnya dengan rasa kecewa, ruangan dimana banyak sekali yang antri untuk diwawancarai.  Giliranku untuk diwawancarai jantungku berdenyut kencang hehehe dag dig dug, aku diwawancarai oleh seorang guru wanita yang halus sekali suaranya, senyumannya yang tulus membuatku merasa nyaman menatapnya, beliau bernama Ibu Endang Widiowati. Kata-kata beliau mengembalikan semangatku untuk terus berjuang, dan beliau menyarankan agar aku mengambil 2 jurusan karena melihat nilai IPA ku dirapot kurang dan hasil dari tes matematika tadi yang nilainya juga kurang. Akhirnya bu Endang menawarkan jurusan PEKERJA SOSIAL yang sekarang sudah ganti nama menjadi Keperawatan Sosial.
Aku merasa asing dengan jurusan itu bahkan aku baru mendengarnya langsung dari Ibu Endang, dengan polosnya aku bertanya, Jurusan apa itu bu???..... Jurusan ini sudah lama ada disini nak...dan bahkan sekolah ini dulu sebelum menjadi SMKN 2, sekolah ini bernama SMPS yaitu Sekolah Menengah Pekerja Sosial yang ditempuh selama 4 tahun, yang mempelajari tentang perkembangan manusia. Aku semakin tidak faham dengan jurusan pekerja sosial, nanti kerjanya kayak apa ya?.. dan dengan polosnya aku mengiyakan memilih jurusan itu sebagai pilihanku yang kedua setelah Keperawatan medis..
Oh... tidak.... jurusan apa sih itu, dan aku tidak menyukainya, aku keluar dari ruangan itu dengan rasa bingung dan linglung... tidak sengaja telingaku mendengar sekelompok anak membicarakan tentang jurusan Pekerja Sosial itu jurusan buangan dari keperawatan medis... hah semakin tidak yakin dengan langkah ku tadi, fikiranku langsung menyimpulkan bahwa yang tidak diterima di jurusan keperawatan medis akan di lempar di jurusan PekSos. Hari demi hari aku menunggu hasil penerimaan siswa baru keluar, dengan rasa gelisah yang cukup hebat. Ya Allah semoga aku Engkau tempatkan di jurusan keperawatan medis, karena aku pengen sekali pakai baju putih-putih yang bersih dan terlihat berkarisma hehehe. Pengumuman sudah keluar, aku dan ayahku bergegas menuju lapangan basket dan segera melihat aku diterima atau tidaknya. Alhamdulillah aku diterima, dan yang sangat mengejutkanku adalah, oh tidak...... namaku tertulis di jurusan Pekerja Sosial, hm.... tubuhku terasa lemas, aku menghebuskan nafas panjang.....
***
          MOS telah selesai ku jalani, waktunya aku menuntut ilmu jurusan Pekerja Sosial, lebih kurang 5 bulan aku berada di kelas 10 PS 3 aku masih belum paham dengan ilmu pekerja sosial, sungguh abstrak hm.... Kulalui semua dengan sabar dan pada saat itu juga kutanamkan pada jiwaku untuk konsentrasi dan terima semuanya, lakukanlah dengan hati, dan semangat...
Bulan demi bulan aku mulai mengerti dan faham tentang ilmu pekerja sosial, dan sungguh ilmu yang luar biasa, ilmu yang digunakan untuk memahami perkembangan manusia dari lahir sampai lansia, dari ilmu pekerja sosial kita mampu membantu idividu-individu yang bermasalah utamanya secara psikis. Wah aku sangat bangga dapat belajar ilmu pekerja sosial karena begitu mulianya ilmu pekerja sosial, yang menangani kasus, bertanggung jawab atas kasus yang diambil, menjadi motivator, menjadi edukator, dll... Aku bangga menjadi pekerja sosial. Ada sebuah kata ajaib dari seorang guru pekerja sosial yang pepatah ini selalu aku ingat yaitu “Memanusiakan Manusia” nah itulah pekerjaan Pekerja Sosial. Kata kunci dari ilmu Profesi Pekerja Sosial adalah “Membantu seorang individu yang bermasalah agar mampu memecahkan masalahnya sendiri”.
***
Ketika aku kelas 11, aku ditempatkan Prakerin (PSG) Di Play Group TK Negeri Pembina. Nah... disini aku menangani seorang anak yang mengalami hambatan dalam perkembangannya, setelah beberapa bulan aku menangani masalah ini, aku banyak sekali belajar tentang perkembangan anak, karakteristik anak, cara berkomunikasi dengan anak, cara menyapa, cara berbicara, dll.... Dan aku sangat bangga sekali karena dalam jurusan pekerja sosial kita juga diajari bagaimana cara menyapa, berbicara, menatap, berkomunikasi dengan orang. Dalam jurusan pekerja sosial kita diberi ilmu untuk memahami karakter manusia. Memahami kerakter manusia menurutku sangat mengispirasi karena dengan ilmu itu aku bisa memahami kerakterku sendiri, orang tua, murid-muridku, dan teman-temanku. Nah ketika kita bisa memahami karakter manusia/ klien (Anak didik PekSos), maka kita akan lebih mudah membantu klien dalam menangani masalahnya tersebut. So..... PekSos Mengispirasi... kenapa tidak dari awal saja ya aku langsung mengambil jurusan ini... hehe
Oh ya, berhubung ketika prakerin aku banyak sekali belajar tentang perkembangan anak, dan aku sangat tertarik sekali dengan dunia anak, aku memutuskan Mengambil jurusan Kependidikan Sekolah Dasar dan Presekolah Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini (PG PAUD) di Universitas Negeri Malang. Hm.... langkahku Inspirasiku, sungguh Allah yang menuntun langkahku.. ^-^
Kuliah adalah sebuah impianku yang pada awalnya aku berfikir tidak mungkin kugapai apalagi di Univ Negeri Malang. Tetapi dengan rasa kegigihanku dan semangatku untuk melanjutkan kuliah, Allah benar-benar memberikan keajaiban yang indah dalam hidupku. Pertama kali dan sampai sekarang kakiku menginjak tanah Perguruan Tinggi rasanya masih seperti mimpi, sungguh seperti mimpi.....
Awalnya aku hanya iseng-iseng mengikuti SNMPTN Jalur Undangan Bidikmisi, yang aku tidak mengerti jalur apa ini. Guru BK yang memberikan informasi padaku dan teman-teman kalau jalur ini adalah jalur kuliah gratis asal nilai rapot bagus dan stabil. Oh.. tidak mungkin ada kuliah gratis... kata2 itu yang terbesit dalam hatiku... Akhirnya aku hanya iseng2 mengikuti proses jalur itu. Hari berganti, minggu berganti, guru BK terus memotivasi aku, bahwa siapa saja yang berniat untuk kuliah semangat berjuang dalam proses pendaftaran jalur ini. Aku yang awalnya hanya sekedar iseng pada akhirnya aku benar2 menekuni proses pendaftaran jalur ini selama lebih kurang 5 bulan, sungguh melelahkan......  Aku harus kuliah, aku ingin kuliah, dan aku ingin menuntut ilmu... kata2 itu terus berada di jiwaku. Semangat yang kuterima dari guru, teman-teman, dan keluarga, yang menjadikanku terus berjuang dalam menggapai kuliah gratis hehehe... wah kapan lagi ada kesempatan kuliah gratis.... ngikut ah..... hehe candaanku bersama teman-temanku.
Kekuatan doa ibu adalah cahaya yang mampu menembus langit. Berkat doa dari orang tua, guru, teman-teman, dan perjuanganku... Namaku tercantum sebagai Mahasiswa
Penerima Beasiswa Bidikmisi Jalur Undangan.. SubhanAllah rasanya seperti aku berada di langit dan terbang hehehehe sungguh melegakan dan bahagia sekali...menakjubkan.
Dan yang menakjubkan lagi teman seperjuanganku, nama mereka juga tercantum sebagai Mahasiswa Penerima Beasiswa Bidikmisi Jalur Undangan. Wah.... Alhamdulillah... berjuang selama 5 bulan dengan rasa semangat yang terkadang naik terkadang turun hehehe dan akhirnya membuahkan hasil YES
Poppy, Putri Sih, Wahyu, Ari, semangat ya...^_^
Yeeeeeeeeee..... Horeeeeee
Mutiara Kata “ Berjuanglah dengan semangat dan rasa yakin karena semangat dan yakin adalah energi positif yang akan menggerakkan diri dalam berjuang”


Inilah duniaku sekarang....
^_^Dunia Anak^_^
Dunia yang menakjubkan dan menyimpan banyak keajaiban.
Ilmu pekerja sosial menjadikanku lebih mudah dalam memahami dunia anak, karena dalam ilmu pekerja sosial  kita belajar tentang bagaimana berkomunikasi dengan baik, memahami karekter manusia, memecahkan sebuah masalah dan masih banyak lagi...
Aku banyak belajar tentang perkembangan anak dalam ilmu pekerja sosial, dan kini aku ingin melengkapi dan memperluas ilmu tentang dunia anak di perguruan tinggi, hm....sungguh menyenangkan.

Buat adik2ku di jurusan PekSos, banggalah kalian dapat belajar ilmu Pekerja Sosial, karena hanya orang-orang tertentu yang bisa belajar dan berkecimpung dalam dunia Pekerja Sosial. Pada Intinya yakinlah dengan setiap langkah kita bahwa ini adalah yang terbaik, dan banggalah pada diri kita.
Semangat ya.....^_^


Seuntai ucapan terimakasih ^_^
Terimakasih saya haturkan kepada beliau guru-guru tercintaku di jurusan Peksos, berkat beliaulah saya bisa begitu memahami ilmu pekerja sosial  yang sangat luas. Berkat beliaulah saya bisa berdiri disini, berkat beliaulah saya menjadi seorang manusia yang kuat, optimistik, dan semangat. Sungguh beliaulah ispirasiku.
Pak Apud Mahfud: Terimakasih bapak, karena sudah membimbing saya dengan sabar dan telaten, sehingga saya bisa terus semangat dalam menempuh pendidikan jurusan peksos di SMKN 2 Malang. Dan terimakasih sudah menjadi wali kelas yang begitu memperhatikan siswa-siswinya, terimakasih ya bapak, sudah membantu saya mendapatkan SPP gratis hehehe.
Bu Andar : Ibu...Terimakasih telah dengan sabar dan tegas mengajarkan ilmu pekerja sosial kepada kami. Semangat ibu luar biasa. Penjelasan tentang ilmu pekerja sosial yang ibu sampaikan sangat mudah masuk dalam diri kami, karena ibu begitu sabar menerangkan dan penjelasan ibu mudah dipahami.
Bu Endang Widowati: Seorang ibu yang halus...dan begitu telaten membimbing kami. Terimakasih ibu...sudah memahamkan diri kami tentang pendidikan pekerja sosial. Dan terimakasih karena sudah menjadi Supervisor saya ketika PSG di TKN Pembina, yang dengan sabar dan senyum ibu membimbing kami.
Bu siti: Terimakasih ya bu....ibu begitu sabar dan telaten membimbing kami sehingga kami lebih mudah memahami pelajaran pendidikan pekerja sosial.
Bu Ita: Wali kelas ketika aku duduk dikelas 12. Terimakasih ibu karena sudah membimbing dan menasehati saya tentang banyak hal, dan semuanya menginspirasi.
Pak Arif: Terimakasih bapak sudah telaten mambantu dan membimbing  saya dalam proses pendaftaran jalur undangan bidikmisi, dan Alhamdulillah harapan bapak tercapai agar saya bisa kuliah, terimakasih bapak.
Pak Yachya, Bu titik, Bu evi: Bapak ibu, terimakasih banyak karena telah membimbing dan memberikan semangat kepada saya agar kuliah, dan terimakasih telah mendoakan saya dan teman-teman, sehingga kami menjadi yakin dengan langkah yang kita pilih.
Sekali lagi terimakasih banyak kepada, semua guru yang ada di SMKN 2 Malang. Berkat beliau semua saya bisa berdiri sampai sekarang, dan berkat ilmu beliau semua, saya bisa berdiri dan menjelajahi dunia pendidikan. Terimakasih..... ^_^
 

Nb: Cerita dituturkan dan ditulis oleh Putri Wulandari. Peksos SMKN 2 Malang lulusan tahun 2012. Saat ini kuliah di Universitas Negeri Malang (UM) jurusan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Kontak: 

FB 'Putri Wulandari'

Email  althafunnisa_putri@yahoo.com



          
 
Copyright Aktivitas Kejuruan Pekerjaan Sosial/ Perawatan Sosial/ Social Worker 2009. Powered by Blogger.Designed by Ezwpthemes .
Converted To Blogger Template by Anshul .